Senin, 26 Januari 2015

Andai

Andai waktu berjalan mundur
Tanpa mata, tanpa kaki
Andai bisa meminta
Takdir mana yg bisa ditulis
Takdir mana yg harus dihapus
Andai kita jatuh sebelum dewasa
Pintaan luka segeralah kembali
Andai keseimbangan ini semestinya
Tak ada lagi yg namanya jatuh
Bahkan di tempat yg sama
Andai bisa berbuat
Tanpa tangan
Tanpa kaki
Tanpa mata
Tanpa pikir
Semua berjalan semestinya
Andai berjiwa pemberontak
Semua ingin pasti digenggam
Andai nama itu yg seharusnya
Pasti genggaman itu lebih erat
Andai
Andai
Andai
Nama yg sangat indah
Kebak lamunan penuh keindahan
Andai
Seribu andai
Seperti senja yg tak pernah kembali
Indah, dan tak berulang
Andai.......
Tangan tak seperti biasanya
Semua terganti, terbayar oleh denting waktu
Yang tak seorang pun tau
Andai saja aku mengenalmu jauh hari
Andai saja engkau tau, mata ini adalah matanya
Apakah yg akan kau lakukan ?

CINTA ITU SEDERHANA, KALAU TIDAK SEDERHANA
ITU BUKAN CINTA NAMANYA.

Yang Semestinya

Terkadang kita harus "bodoh" sebelum "pintar"
Seperti kepastian memang harus ada "malam" sebelum "siang"
Terkadang kita harus "benci" sebelum "cinta"
Seperti kepastian memang harus ada "perjuangan" sebelum "kemenangan"
Dan di Dunia ini selalu begitu,
Berjejer berdua,
Saling melengkapi,



Senandung malam

Siang memang tlah berlalu,
Begitu pun dng kemarin juga sudah berlalu,
Saat ini pun juga tlah berlalu,
Hanya ada bayangan jatuh.
Bayangan jatuh tepat di depan mata.

Boleh kah bayangan itu tetap jatuh,
Jatuh berulang kali tanpa alasan
Boleh kah bayangan itu tetap jatuh,
Jatuh berulang kali pada tempat yg sama
Hanya begitu, hanya berulang2
Dengan birama waktu yg berbeda.

Jika terlahir "seandainya"
Tiada yg dapat diminta,
Diminta menjauh,
Diminta menghilang,
Dan akhirnya pergi.

Saat ini, hanya bisa melihat
Senyum,
Canda,
Tawa,
Semua tlah kembali,
Hanya saja tak ada raga.
Terlihat jiwa, jiwa yg meronta
Merindu,
Merindu kembali, selalu, dan selamanya.

Hanya bermain waktu,
Doa
Dan harapan.