Rabu, 02 Juli 2014

Bu, bolehkah aku merindu ?
Rindu disaat ibu menunjuk jari bertinta itu padaku. Saat itu ak tak paham, saat itu ak tak peduli. Yang aku paham, boneka itu menangis dan lapar saatnya makan dan tidur, yang aku pedulikan besok sekolah tidak salah memakai seragam, supaya aku tidak malu dengan temanku.
Tapi itu dulu bu,
Sekarang aku terkoyak, batinku berkata, telingaku terpaksa mendengar, kaki ku terus melangkah, tangan ku mencari, bahkan otak ku dirampas jauh sebelum aku terbangun.
Sekarang aku paham, aku peduli jari bertinta yang dulu kau acungkan padaku, kebenaran itu pasti katamu dan kataku yang telah kutemui hari ini.

Harapan


Sempat kaki ini melangkah, tapi tak tahu setapak mana yang teranut
Sempat tangan ini menyeka, tapi tak tahu sekaan mana yang tergapai
Sempat pikir ini berpacu, tapi tak tahu pacuan mana yang bertepi
Tahun bahkan bertahun-tahun jejak rintihan ini semakin melaju
Melebihi  jiwa yang bertuan.

Tuhan,
Debu itu menari-nari mengelilingi perputaran jalan yang tertapaki
Sedangkan matahari mencuri-curi celah dalam rajutan berhelai,
Hanya anginlah yang mengusap lembut permadani tubuh nista ini.
Tuhan,
Bolehkah peluh ini berharap ?
Berharap hanya kembali, kembali seperti  Engkau memberikan perputaran dan helaian rajutan,
Ya
Ya benar,
Seperti yang mereka punya.