Kamis, 19 Juni 2014

Abnormalitas Pelaku Seni

Abnormalitas merupakan aktivitas dari perilaku abnormal, dimana abnormal menurut kamus kesehatan adalah menyimpang dari struktur, posisi, kondisi, perilaku biasa yang dianggap normal. Mengacu pada pertumbuhan sel, lesi atau pertumbuhan abnormal dapat bersifat jinak (bukan kanker), prakanker atau premaligna (cenderung menjadi kanker), atau ganas (kanker).

Sedangkan pelaku seni sering disebut sebagai seniman. Menurut kamus besar bahasa indonesia yang dimaksud seniman yaitu orang yang memiliki bakat seni dan berhasil menciptakan serta menggelar karya seni (pelukis, penyanyi, dan sebagainya).

Untuk menentukan apakah perilaku seseorang normal atau tidak normal ternyata tidaklah mudah, perlu beberapa kajian lebih lanjut untuk menjelaskan hal tersebut. Akan tetapi secara umum seseorang dikatakan tidak normal apabila telah menyimpang dari batas-batas kewajaran seperti halnya menampakkan perilaku aneh, tidak lazim, bertentangan dengan norma dan lain sebagainya. Lalu apakah kaitannya abnormalitas dengan para pelaku seni ?

Dalam dunia seni kita sering mendengar nama Leonardo Da VInci, salah satu diantara beberapa ketidaknormalan Da Vinci terletak pada kegilaannya membedah mayat agar dapat mengerti anatomi tubuh manusia, karena Ia berpikir bahwa lukisan dan ilmu pengetahuan mempunyai keterkaitan yang sangat kuat, alhasil dalam lukisannya Dia selalu dengan tepat dapat menangkap gerakan otot dibawah lapisan kulit, sehingga lukisannya sangat cermat dan halus, contohnya adalah sketsa tangannya sendiri yang masih terdokumentasi sampai saat ini. Tidak hanya cermat dan tepat dalam menvisualkan objek yang dilihatnya Da Vinci juga mampu membuat kemisteriusan lukisan Monalisa yang sampai saat ini masih menjadi buronan para peneliti untuk mengungkap apakah makna dalam lukisan tersebut, dari fakta inilah menunjukkan kemampuan tingkat tinggi yang dimiliki oleh Da Vinci. Selain Da Vinci dalam dunia sains kita mengenal Albert Einstein, riset terbaru yang dipublikasikan di jurnal Brain 24 September 2013, seperti  diberitahukan Huffington Post, kembali mengungkap keunikan otak sang genius.Riset yang dilakukan oleh Dean Falk tersebut mengemukakan adanya keunikan dalam sistem penghubung antara otak kanan dan kiri, Einstein memiliki kemampuan penglihatan spasial, dan sistematis yang istimewa.

Apakah selain Da Vinci dan Einstein terdapat pula orang-orang abnormal?
Ya tentu saja masih banyak, diantaranya adalah para pelaku seni yang sering juga disebut sebagai seniman. Seniman merupakan daftar manusia yang masuk dalam kategori manusia abnormal yang memiliki pemikiran cerdas seperti layaknya Einstein dan Da Vinci. Karena apa yang dipikirkan, dikonsepkan oleh seorang seniman melebihi batas kewajaran manusia normal pada umumnya, hal ini ada kaitannya dengan kreativitas tingkat tinggi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh psikiater Key Redfield Jamisson, terdapat sejumlah fakta bahwa dibalik kekreativitasan dan prestasi yang luar biasa, tersimpan ketidakstabilan mental, hal inilah yang disebut pula sebagai kegilaan yang berguna. Maka kita sering mendengar bahwa seorang seniman merupakan manusia gila, gila dalam artian positif,  karena pada kenyataannya Ia mampu membuat karya seni yang begitu fenomenal, jauh terhempas dari kekakuan formalitas.

Tapi pada kenyataannya tidak semua orang dapat menerima perilaku abnormalitas yang dimiliki oleh para pelaku seni. Entah dari caranya berpikir, perilakunya dalam masyarakat, pekerjaannya yang sering dianggap tidak penting dan lain sebagainya, sering kali para pelaku seni terkucilkan karena keabnormalitasannya. Dapat disimpulkan bahwa perilaku abnormalitas dalam dunia seni dianggap sebagai kewajaran, tetapi kewajaran ini nampaknya tidak berlaku pada masyarakat pada umumnya.

Senin, 16 Juni 2014

Yang Tak Banyak Menjelaskan


Hari kemarin dan hari ini adalah dua hal yang berbeda. Ibarat  sebuah magnet.saling tarik menarik dan tak akan pernah bertemu dengan sejenisnya. Masa lalu tak akan pernah bertemu dengan yang lalu, begitu juga saat ini juga tak akan bertemu dimasa sekarang.
Yang ada hanyalah masa lalu yang dipertemukan pada saat ini, dengan perbaikan sebagai jaminan bahwa hidup ini semakin membaik dari hari kehari. Sebut saja “hari ini harus lebih baik dari hari kemarin” yah begitulah sering orang-orang menyebutnya.
Pun demikian tak banyak orang mengerti apa kalimat itu, ungkapan yang sederhana, tak sirat banyak arti dan lebih disayangkan berlalu begitu saja ketika teramati.
Sesudah mendapatkan apa yang di harapkan tentunya kalimat indah itu muncul sebegitu ruwetnya dalam pikiran,
Namun apalah daya jika sebuah pengharapan yang nyatanya sudah terwujud dan memenuhi segala ungkapan. Sempurnalah sudah.
Oh nyatanya tak berhenti dengan kalimat naïf itu, hidup pun masih berlajut dengan banyak tuntutan yang memang sangat mencekik urat nadi ini. Tapi tapi tapi dengan seribu tapi udara tak bertuan toh juga dapat kita miliki dengan mudahnya.
Begitulah hidup, berdoa siang dan malam, dan ketika sudah mendapatkan apa yang dimiliki, masih saja sulit untuk menjelaskan, bahwa AKU TAK BISA LAGI MENJELASKAN, kejujuran kah atau kebohongan kah apa yang aku ucapkan? ya Tuhan, Engkaulah yang Maha Mengetahui, ketahuilah hati hamba yang tertuntun pada kejujuran, walau terkadang ia terbungkus dengan bingkisan yang teramat tebal dan sangat susah untuk membukanya.
Mungkinkah yang indah itu adalah ketika kita tak banyak menjelaskan ??....

Kekuratoran Kartini




Siapa tak kenal tokoh pejuang wanita Indonesia ini, namanya adalah Kartini lahir di Jepara 21 April 1879  yang terlahir dari keluarga ningrat. Ayahnya RM Adipati Ario Sosrodiningrat adalah Asisten Wedana di Mayong, Jepara. Sejak berumur 19 tahun Kartini sudah memperlihatkan eksistensinya dibidang pengkurasian.  Kata-kata  kurator,  kurasi, dan kuratorial sering bermunculan dalam wacana seni kontemporer., dalam  Dwi Marianto (2002:138) “curator atau kurator  berasal dari  kata Yunani kura, berarti merawat atau menyembuhkan (cure) atau peduli (care)”, sama halnya memilih dan mengurus objek museum atau karya seni, kurasi adalah kerja atau kegiatan yang berhubungan dengan memelihara dan menjaga serta mengawasi sebuah kegiatan pameran seni rupa, sedangkan kuratorial adalah ilmu yang mempelajari pengetahuan atau pemahaman yang erat kaitannya dengan pemeliharaan, penjagaan, dan pengawasan buah karya seni rupa yang dipamerkan di sebuah tempat seperti museum atau galeri.
     Kelihaian Kartini dalam kurasi terlihat dalam sebuah pameran di Deen Haag, Nederland dimana pameran tersebut mengekspose hasil karya seni rakyat Hindia, diantaranya berasal dari Jawa. Karya tulisan Kartini mampu menarik perhatian Ibu Suri kerajaan. Karya tulis kartini yang terdapat pada sebuah stan yang bernama “jawa” dimana dalam tulisannya adalah mengenai batik dengan judul  Handscriff Japara, dalam tulisan ini Ia memperkenalkan keunggulan-keunggulan seni rakyat dan hasil kerajinan tangan negerinya. Hingga pada tahun pertama setelah adanya pameran ini, tulisan-tulisan kartini menjadi sebuah pengilhaman atas lahirnya buku  De Batikunst In Nederland Indie en hare Gaschiendenis karya G. P Rouffaer dan Dr. H. H Juynboll.
    
Pengaruh dari tulisan Kartini dalam Handscriff Japara sangatlah berarti. Industri kayu di Jepara menjadi fokus perhatian dari para peminat, dan banyak orang di Holland menjadi lebih kenal dengan hasil karya seni dan kerajinan rakyat di indie. Emansipasi Kartini juga terlihat dalam kampanyenya pada surat yang tertanggal 25 Agustus 1903 kepada Nyonya Abendanon, Ia menceritakan keprihatinannya terhadap kehidupan yang diderita oleh masyarakat Blakang Gunung, Jepara dengan mata  pencaharian sebagai tukang ukir kayu. Dengan keadaan sosial yang cukup memprihatinkan. Dalam suratnya Ia  membahas upaya-upaya strategis  untuk memperluas usaha ukir kayu Jepara ditinjau juga dari aspek manajemen dan ekonomi. Disini Kartini telah berperan dalam memperhatikan serta peduli terhadap karya-karya seni seperti batik, ukir kayu dan pembaharuan-pembaharuan desain, serta memperkenalkan dan mempromosikan hasil karya kerajinan tangan negrinya kepada bangsa lain. Dalam keterlibatan Kartini ini maka Ia bisa dikatakan sebagai Kurator seni, dimana menurut Damon Moon  (1997) yang termaktub dalam buku Dwi Marianto (2002:153)  to curate (mengkuratori) memperhatikan, memilih, mengumpulkan, memajang, meneliti,  mendiskusikan, mendokumentasikan, dan mengelola karya-karya seni.




 

Idealis yang Realistis, tak Membunuh Idealisme
Oleh Emma IR
Saya sering mendengar hal-hal negative  pada orang-orang yang ber-Idealisme.  Sebenarnya apa sih idealisme itu ? apakah syarat akan arti yang negative atau malah positif ? atau jangan-jangan yang bilang malah juga termasuk orang yang ber-idealisme ?
Idealisme adalah suatau paham atas keyakinan individu terhadap apa yang dia yakini kebenarannya, karena kebenaran itu bisa datang dari pengalaman, pendidikan, kultur budaya, dan juga kebiasaan.  
Sedangkan realisme adalah paham yang dianut oleh kaum realistis, yang mempunyai pola pikir  mengikuti arus. Orang yang menganut paham ini cenderung mengabaikan beberapa nilai kebenaran yang ada pada dirinya, karena mengikuti arus dilingkungan sekitarnya.
Tak urung banyak orang berpandangan bahwa kaum idealis, adalah sampah kehidupan, yang hanya berangan-angan, mimpi disiang bolong. Sebenarnya tidak salah jika kita mempunyai mimpi bahkan malah diharuskan mempunyai mimpi, karena jika tak punya mimpi maka kita tidak hidup. Bagaimana seseorang dapat bersemangat disetiap harinya jika ia tidak mempunyai tujuan dalam kehidupannya ?
“Kehidupan  tidak akan membawa kemajuan seperti sekarang bila tidak ada pemikiran. Namun pemikiran tidak akan punya dampak bila tidak ada dunia penciptaan. Pemikiran yang bersifat asbtrak dan sulit dibayangkan baru dipahami setelah digambarkan para pencipta”. Kutipan dari artikel Jim Supangkat ini dapat diartikan kedalam beberapa tafsiran pendekatan, penggambaran akan penciptaan bisa saja melalui sebuah karya seni atau bisa juga melalui sebuah penelitian-penelitian ilmiah yang nantinya dapat dijadikan sebagai khazanah ilmu pengetahuan.
Dalam kaitannya dapat dikatakan bahwa idealisme merupakan sumber perubahan, perubahan yang bermula dari sebuah pemikiran karena tidak adanya sebuah kepuasaan terhadap kondisi kekinian, perubahan hanya bisa terwujud jika ada suatu keberanian, dan keberanian menjadi ujung tombak dalam sebuah perubahan, sehingga implementasi dari idealism dapat terealisasi.  Inilah yang disebut sebagai Idealisme aktif sebuah idealisme yang melahirkan inspirasi-inspirasi baru yang bisa di wujudkan dalam realita.
Seperti kita lihat Pemimpin bangsa seperti Soekarno, yang kehidupannya akrab dengan kekejaman rezim penjajah terhadap bangsanya, kaumnya (kaum pribumi). Yang bertolak belakang dengan kehidupannya semasa kecil terlahir sebagai kaum priyayi/bangsawan. Dan menganggap perbedaan kedudukan itu sudahlah biasa. Akan tetapi gejala sosial yang salah itu tidaklah berlangsung lama, setelah dewasa Soekarno mengerti, hingga idenya menuntun agar menyemarakkan kedaulatan atas Negara yang dipimpinnya. Ide itupun bukan hanya sementara singgah di pikiran Soekarno, akan tetapi ide it uterus berkembang dan semakin kuat atas dukungan keyakinannya, sehingga terjadilah keberanian yang mewujudkan sebuah gebrakan untuk menyatakan “Indonesia merdeka” dengan kedaulatannya. Yang seperti inilah idealism aktif dan positif. Yang meyakini kebenaran bahwa akan membawa sebuah perubahan kearah yang lebih baik.
Tapi tak urung juga dapat  diketahui bahwa idealisme semu yang tidak bisa diwujudkan dalam realita, karena beberapa hambatan, baik secara rasionalitas ataupun material juga akan membawa si idealis menjadi mati,  raga yang tak sanggup menjalankan apa yang dipikirkan.
Seperti halnya Socrates yang bersikukuh menentang pemerintahan demokrasi Athena yang dianggap kotor dan busuk, walaupun sudah banyak kerabatnya yang memperingatkan untuk menurunkan keidealisannya utamnya terhadap demokrasi pemerintahan pada saat itu. Akan tetapi kekukuhannya berujung pada kematiannya sendiri, karena senat pemerintahan tidak terima jika demokrasi dalam pemerintahannya dikatakan seperti demikian. KematianSocrates yang dihukumi mati untuk meneguk racun merupakan dampak dari memperjuangkan keidealisan yang semu, mengorbankan jiwanya tanpa memandang kerealisan dari sudut pandang yang lain.
Tak jauh-jauh dari bangsa lain, bangsa kita kendati juga pernah mengetahui Kasus Marsinah dengan kematian misteriusnya, ia merupakan salah satu aktivis buruh pabrik yang diketemukan tewas pada 8 Mei 1993 karena diduga sebagai pelopor mulainya demonstrasi dalam mempertahankan pemikirannya terhadap hak-hak asasi manusia, dalam hal kenaikan upah pokok buruh pabrik dari Rp. 1.700 per hari menjadi Rp. 2.250. dan juga tunjangan tetap Rp. 550 per hari. Keberanian Marsinah dipicu oleh Surat edaran Gubernur Jawa Timur Nomor 50 Tahun 1992, yang berisi himbauan kepada pengusaha agar menaikkan gaji buruh sebesar 20 persen dari gaji pokok. Dengan bangganya kekuasaan militer orde baru turut mewarnai kasus ini, diduga kuat melindungi terdakwa dalam kasusu pembunuhan Marsinah, sehingga kematian Marsinah seorang pelopor HAM menjadi sebuah klamufase zaman.
Merujuk dari kasus-kasus yang pernah terjadi,  dapat disimpulkan bahwa tak ada seorang pun, entah itu pemimpin besar ataupun rakyat biasa di bumi ini yang tidak menganut idealisme, hanya saja paham itu akan tumbuh seiring dengan kekuatan pengalaman, pendidikan, kultur budaya dan juga kebiasaan. Idealisme tak perlu dibunuh, hanya saja perlu dibimbing pada arah idealisme realistis. Guna meminimalisir kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa terjadi nantinya.  Idealisme dan realisme adalah paham yang perlu berdampingan, tak selayaknya saling menyalahkan, sehingga individu yang menganut akan paham dari salah satu tersebut tidak merasa tersudutkan. Dengan keduanyalah hidup akan mengalami progresifitas dan output yang lebih baik daripada hanya fanatic atau condong kesalah satu paham saja. Keduanya merupakan keseimbangan hidup dan bukanlah suatu dikotomi yang perlu diperdebatkan.