Senin, 16 Juni 2014

Kekuratoran Kartini




Siapa tak kenal tokoh pejuang wanita Indonesia ini, namanya adalah Kartini lahir di Jepara 21 April 1879  yang terlahir dari keluarga ningrat. Ayahnya RM Adipati Ario Sosrodiningrat adalah Asisten Wedana di Mayong, Jepara. Sejak berumur 19 tahun Kartini sudah memperlihatkan eksistensinya dibidang pengkurasian.  Kata-kata  kurator,  kurasi, dan kuratorial sering bermunculan dalam wacana seni kontemporer., dalam  Dwi Marianto (2002:138) “curator atau kurator  berasal dari  kata Yunani kura, berarti merawat atau menyembuhkan (cure) atau peduli (care)”, sama halnya memilih dan mengurus objek museum atau karya seni, kurasi adalah kerja atau kegiatan yang berhubungan dengan memelihara dan menjaga serta mengawasi sebuah kegiatan pameran seni rupa, sedangkan kuratorial adalah ilmu yang mempelajari pengetahuan atau pemahaman yang erat kaitannya dengan pemeliharaan, penjagaan, dan pengawasan buah karya seni rupa yang dipamerkan di sebuah tempat seperti museum atau galeri.
     Kelihaian Kartini dalam kurasi terlihat dalam sebuah pameran di Deen Haag, Nederland dimana pameran tersebut mengekspose hasil karya seni rakyat Hindia, diantaranya berasal dari Jawa. Karya tulisan Kartini mampu menarik perhatian Ibu Suri kerajaan. Karya tulis kartini yang terdapat pada sebuah stan yang bernama “jawa” dimana dalam tulisannya adalah mengenai batik dengan judul  Handscriff Japara, dalam tulisan ini Ia memperkenalkan keunggulan-keunggulan seni rakyat dan hasil kerajinan tangan negerinya. Hingga pada tahun pertama setelah adanya pameran ini, tulisan-tulisan kartini menjadi sebuah pengilhaman atas lahirnya buku  De Batikunst In Nederland Indie en hare Gaschiendenis karya G. P Rouffaer dan Dr. H. H Juynboll.
    
Pengaruh dari tulisan Kartini dalam Handscriff Japara sangatlah berarti. Industri kayu di Jepara menjadi fokus perhatian dari para peminat, dan banyak orang di Holland menjadi lebih kenal dengan hasil karya seni dan kerajinan rakyat di indie. Emansipasi Kartini juga terlihat dalam kampanyenya pada surat yang tertanggal 25 Agustus 1903 kepada Nyonya Abendanon, Ia menceritakan keprihatinannya terhadap kehidupan yang diderita oleh masyarakat Blakang Gunung, Jepara dengan mata  pencaharian sebagai tukang ukir kayu. Dengan keadaan sosial yang cukup memprihatinkan. Dalam suratnya Ia  membahas upaya-upaya strategis  untuk memperluas usaha ukir kayu Jepara ditinjau juga dari aspek manajemen dan ekonomi. Disini Kartini telah berperan dalam memperhatikan serta peduli terhadap karya-karya seni seperti batik, ukir kayu dan pembaharuan-pembaharuan desain, serta memperkenalkan dan mempromosikan hasil karya kerajinan tangan negrinya kepada bangsa lain. Dalam keterlibatan Kartini ini maka Ia bisa dikatakan sebagai Kurator seni, dimana menurut Damon Moon  (1997) yang termaktub dalam buku Dwi Marianto (2002:153)  to curate (mengkuratori) memperhatikan, memilih, mengumpulkan, memajang, meneliti,  mendiskusikan, mendokumentasikan, dan mengelola karya-karya seni.




 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar