Senin, 16 Juni 2014


Idealis yang Realistis, tak Membunuh Idealisme
Oleh Emma IR
Saya sering mendengar hal-hal negative  pada orang-orang yang ber-Idealisme.  Sebenarnya apa sih idealisme itu ? apakah syarat akan arti yang negative atau malah positif ? atau jangan-jangan yang bilang malah juga termasuk orang yang ber-idealisme ?
Idealisme adalah suatau paham atas keyakinan individu terhadap apa yang dia yakini kebenarannya, karena kebenaran itu bisa datang dari pengalaman, pendidikan, kultur budaya, dan juga kebiasaan.  
Sedangkan realisme adalah paham yang dianut oleh kaum realistis, yang mempunyai pola pikir  mengikuti arus. Orang yang menganut paham ini cenderung mengabaikan beberapa nilai kebenaran yang ada pada dirinya, karena mengikuti arus dilingkungan sekitarnya.
Tak urung banyak orang berpandangan bahwa kaum idealis, adalah sampah kehidupan, yang hanya berangan-angan, mimpi disiang bolong. Sebenarnya tidak salah jika kita mempunyai mimpi bahkan malah diharuskan mempunyai mimpi, karena jika tak punya mimpi maka kita tidak hidup. Bagaimana seseorang dapat bersemangat disetiap harinya jika ia tidak mempunyai tujuan dalam kehidupannya ?
“Kehidupan  tidak akan membawa kemajuan seperti sekarang bila tidak ada pemikiran. Namun pemikiran tidak akan punya dampak bila tidak ada dunia penciptaan. Pemikiran yang bersifat asbtrak dan sulit dibayangkan baru dipahami setelah digambarkan para pencipta”. Kutipan dari artikel Jim Supangkat ini dapat diartikan kedalam beberapa tafsiran pendekatan, penggambaran akan penciptaan bisa saja melalui sebuah karya seni atau bisa juga melalui sebuah penelitian-penelitian ilmiah yang nantinya dapat dijadikan sebagai khazanah ilmu pengetahuan.
Dalam kaitannya dapat dikatakan bahwa idealisme merupakan sumber perubahan, perubahan yang bermula dari sebuah pemikiran karena tidak adanya sebuah kepuasaan terhadap kondisi kekinian, perubahan hanya bisa terwujud jika ada suatu keberanian, dan keberanian menjadi ujung tombak dalam sebuah perubahan, sehingga implementasi dari idealism dapat terealisasi.  Inilah yang disebut sebagai Idealisme aktif sebuah idealisme yang melahirkan inspirasi-inspirasi baru yang bisa di wujudkan dalam realita.
Seperti kita lihat Pemimpin bangsa seperti Soekarno, yang kehidupannya akrab dengan kekejaman rezim penjajah terhadap bangsanya, kaumnya (kaum pribumi). Yang bertolak belakang dengan kehidupannya semasa kecil terlahir sebagai kaum priyayi/bangsawan. Dan menganggap perbedaan kedudukan itu sudahlah biasa. Akan tetapi gejala sosial yang salah itu tidaklah berlangsung lama, setelah dewasa Soekarno mengerti, hingga idenya menuntun agar menyemarakkan kedaulatan atas Negara yang dipimpinnya. Ide itupun bukan hanya sementara singgah di pikiran Soekarno, akan tetapi ide it uterus berkembang dan semakin kuat atas dukungan keyakinannya, sehingga terjadilah keberanian yang mewujudkan sebuah gebrakan untuk menyatakan “Indonesia merdeka” dengan kedaulatannya. Yang seperti inilah idealism aktif dan positif. Yang meyakini kebenaran bahwa akan membawa sebuah perubahan kearah yang lebih baik.
Tapi tak urung juga dapat  diketahui bahwa idealisme semu yang tidak bisa diwujudkan dalam realita, karena beberapa hambatan, baik secara rasionalitas ataupun material juga akan membawa si idealis menjadi mati,  raga yang tak sanggup menjalankan apa yang dipikirkan.
Seperti halnya Socrates yang bersikukuh menentang pemerintahan demokrasi Athena yang dianggap kotor dan busuk, walaupun sudah banyak kerabatnya yang memperingatkan untuk menurunkan keidealisannya utamnya terhadap demokrasi pemerintahan pada saat itu. Akan tetapi kekukuhannya berujung pada kematiannya sendiri, karena senat pemerintahan tidak terima jika demokrasi dalam pemerintahannya dikatakan seperti demikian. KematianSocrates yang dihukumi mati untuk meneguk racun merupakan dampak dari memperjuangkan keidealisan yang semu, mengorbankan jiwanya tanpa memandang kerealisan dari sudut pandang yang lain.
Tak jauh-jauh dari bangsa lain, bangsa kita kendati juga pernah mengetahui Kasus Marsinah dengan kematian misteriusnya, ia merupakan salah satu aktivis buruh pabrik yang diketemukan tewas pada 8 Mei 1993 karena diduga sebagai pelopor mulainya demonstrasi dalam mempertahankan pemikirannya terhadap hak-hak asasi manusia, dalam hal kenaikan upah pokok buruh pabrik dari Rp. 1.700 per hari menjadi Rp. 2.250. dan juga tunjangan tetap Rp. 550 per hari. Keberanian Marsinah dipicu oleh Surat edaran Gubernur Jawa Timur Nomor 50 Tahun 1992, yang berisi himbauan kepada pengusaha agar menaikkan gaji buruh sebesar 20 persen dari gaji pokok. Dengan bangganya kekuasaan militer orde baru turut mewarnai kasus ini, diduga kuat melindungi terdakwa dalam kasusu pembunuhan Marsinah, sehingga kematian Marsinah seorang pelopor HAM menjadi sebuah klamufase zaman.
Merujuk dari kasus-kasus yang pernah terjadi,  dapat disimpulkan bahwa tak ada seorang pun, entah itu pemimpin besar ataupun rakyat biasa di bumi ini yang tidak menganut idealisme, hanya saja paham itu akan tumbuh seiring dengan kekuatan pengalaman, pendidikan, kultur budaya dan juga kebiasaan. Idealisme tak perlu dibunuh, hanya saja perlu dibimbing pada arah idealisme realistis. Guna meminimalisir kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa terjadi nantinya.  Idealisme dan realisme adalah paham yang perlu berdampingan, tak selayaknya saling menyalahkan, sehingga individu yang menganut akan paham dari salah satu tersebut tidak merasa tersudutkan. Dengan keduanyalah hidup akan mengalami progresifitas dan output yang lebih baik daripada hanya fanatic atau condong kesalah satu paham saja. Keduanya merupakan keseimbangan hidup dan bukanlah suatu dikotomi yang perlu diperdebatkan.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar