Idealis
yang Realistis, tak Membunuh Idealisme
Oleh
Emma IR
Saya sering mendengar hal-hal negative pada orang-orang yang ber-Idealisme. Sebenarnya apa sih idealisme itu ? apakah
syarat akan arti yang negative atau malah positif ? atau jangan-jangan yang bilang
malah juga termasuk orang yang ber-idealisme ?
Idealisme adalah suatau paham atas keyakinan individu
terhadap apa yang dia yakini kebenarannya, karena kebenaran itu bisa datang
dari pengalaman, pendidikan, kultur budaya, dan juga kebiasaan.
Sedangkan realisme adalah paham yang dianut oleh kaum realistis, yang mempunyai pola pikir mengikuti arus. Orang yang menganut paham ini cenderung mengabaikan beberapa nilai kebenaran yang ada pada dirinya, karena mengikuti arus dilingkungan sekitarnya.
Sedangkan realisme adalah paham yang dianut oleh kaum realistis, yang mempunyai pola pikir mengikuti arus. Orang yang menganut paham ini cenderung mengabaikan beberapa nilai kebenaran yang ada pada dirinya, karena mengikuti arus dilingkungan sekitarnya.
Tak urung banyak orang berpandangan bahwa kaum
idealis, adalah sampah kehidupan, yang hanya berangan-angan, mimpi disiang
bolong. Sebenarnya tidak salah jika kita mempunyai
mimpi bahkan malah diharuskan mempunyai mimpi, karena jika tak punya mimpi maka
kita tidak hidup. Bagaimana seseorang dapat bersemangat disetiap harinya jika
ia tidak mempunyai tujuan dalam kehidupannya ?
“Kehidupan tidak akan membawa kemajuan seperti sekarang bila tidak ada pemikiran. Namun pemikiran tidak akan punya dampak bila tidak ada dunia penciptaan. Pemikiran yang bersifat asbtrak dan sulit dibayangkan baru dipahami setelah digambarkan para pencipta”. Kutipan dari artikel Jim Supangkat ini dapat diartikan kedalam beberapa tafsiran pendekatan, penggambaran akan penciptaan bisa saja melalui sebuah karya seni atau bisa juga melalui sebuah penelitian-penelitian ilmiah yang nantinya dapat dijadikan sebagai khazanah ilmu pengetahuan.
“Kehidupan tidak akan membawa kemajuan seperti sekarang bila tidak ada pemikiran. Namun pemikiran tidak akan punya dampak bila tidak ada dunia penciptaan. Pemikiran yang bersifat asbtrak dan sulit dibayangkan baru dipahami setelah digambarkan para pencipta”. Kutipan dari artikel Jim Supangkat ini dapat diartikan kedalam beberapa tafsiran pendekatan, penggambaran akan penciptaan bisa saja melalui sebuah karya seni atau bisa juga melalui sebuah penelitian-penelitian ilmiah yang nantinya dapat dijadikan sebagai khazanah ilmu pengetahuan.
Dalam kaitannya dapat dikatakan bahwa idealisme
merupakan sumber perubahan, perubahan yang bermula dari sebuah pemikiran karena
tidak adanya sebuah kepuasaan terhadap kondisi kekinian, perubahan hanya bisa
terwujud jika ada suatu keberanian, dan keberanian menjadi ujung tombak dalam
sebuah perubahan, sehingga implementasi dari idealism dapat terealisasi. Inilah yang disebut sebagai Idealisme aktif sebuah
idealisme yang melahirkan inspirasi-inspirasi baru yang bisa di wujudkan dalam
realita.
Seperti kita lihat Pemimpin bangsa seperti Soekarno,
yang kehidupannya akrab dengan kekejaman rezim penjajah terhadap bangsanya,
kaumnya (kaum pribumi). Yang bertolak belakang dengan kehidupannya semasa kecil
terlahir sebagai kaum priyayi/bangsawan. Dan menganggap perbedaan kedudukan itu
sudahlah biasa. Akan tetapi gejala sosial yang salah itu tidaklah berlangsung
lama, setelah dewasa Soekarno mengerti, hingga idenya menuntun agar
menyemarakkan kedaulatan atas Negara yang dipimpinnya. Ide itupun bukan hanya
sementara singgah di pikiran Soekarno, akan tetapi ide it uterus berkembang dan
semakin kuat atas dukungan keyakinannya, sehingga terjadilah keberanian yang
mewujudkan sebuah gebrakan untuk menyatakan “Indonesia merdeka” dengan
kedaulatannya. Yang seperti inilah idealism aktif dan positif. Yang meyakini
kebenaran bahwa akan membawa sebuah perubahan kearah yang lebih baik.
Tapi tak urung juga dapat diketahui bahwa idealisme semu yang tidak
bisa diwujudkan dalam realita, karena beberapa hambatan, baik secara
rasionalitas ataupun material juga akan membawa si idealis menjadi mati, raga yang tak sanggup menjalankan apa yang
dipikirkan.
Seperti halnya Socrates yang bersikukuh menentang pemerintahan demokrasi Athena yang dianggap kotor dan busuk, walaupun sudah banyak kerabatnya yang memperingatkan untuk menurunkan keidealisannya utamnya terhadap demokrasi pemerintahan pada saat itu. Akan tetapi kekukuhannya berujung pada kematiannya sendiri, karena senat pemerintahan tidak terima jika demokrasi dalam pemerintahannya dikatakan seperti demikian. KematianSocrates yang dihukumi mati untuk meneguk racun merupakan dampak dari memperjuangkan keidealisan yang semu, mengorbankan jiwanya tanpa memandang kerealisan dari sudut pandang yang lain.
Seperti halnya Socrates yang bersikukuh menentang pemerintahan demokrasi Athena yang dianggap kotor dan busuk, walaupun sudah banyak kerabatnya yang memperingatkan untuk menurunkan keidealisannya utamnya terhadap demokrasi pemerintahan pada saat itu. Akan tetapi kekukuhannya berujung pada kematiannya sendiri, karena senat pemerintahan tidak terima jika demokrasi dalam pemerintahannya dikatakan seperti demikian. KematianSocrates yang dihukumi mati untuk meneguk racun merupakan dampak dari memperjuangkan keidealisan yang semu, mengorbankan jiwanya tanpa memandang kerealisan dari sudut pandang yang lain.
Tak jauh-jauh dari bangsa lain, bangsa kita kendati
juga pernah mengetahui Kasus Marsinah dengan kematian misteriusnya, ia
merupakan salah satu aktivis buruh pabrik yang diketemukan tewas pada 8 Mei
1993 karena diduga sebagai pelopor mulainya demonstrasi dalam mempertahankan
pemikirannya terhadap hak-hak asasi manusia, dalam hal kenaikan upah pokok
buruh pabrik dari Rp. 1.700 per hari menjadi Rp. 2.250. dan juga tunjangan
tetap Rp. 550 per hari. Keberanian Marsinah dipicu oleh Surat edaran Gubernur
Jawa Timur Nomor 50 Tahun 1992, yang berisi himbauan kepada pengusaha agar
menaikkan gaji buruh sebesar 20 persen dari gaji pokok. Dengan bangganya
kekuasaan militer orde baru turut mewarnai kasus ini, diduga kuat melindungi
terdakwa dalam kasusu pembunuhan Marsinah, sehingga kematian Marsinah seorang
pelopor HAM menjadi sebuah klamufase zaman.
Merujuk dari kasus-kasus yang pernah terjadi, dapat disimpulkan bahwa tak ada seorang pun,
entah itu pemimpin besar ataupun rakyat biasa di bumi ini yang tidak menganut
idealisme, hanya saja paham itu akan tumbuh seiring dengan kekuatan pengalaman,
pendidikan, kultur budaya dan juga kebiasaan. Idealisme tak perlu dibunuh, hanya
saja perlu dibimbing pada arah idealisme realistis. Guna meminimalisir kemungkinan-kemungkinan
buruk yang bisa terjadi nantinya.
Idealisme dan realisme adalah paham yang perlu berdampingan, tak
selayaknya saling menyalahkan, sehingga individu yang menganut akan paham dari
salah satu tersebut tidak merasa tersudutkan. Dengan keduanyalah hidup akan
mengalami progresifitas dan output yang lebih baik daripada hanya fanatic atau
condong kesalah satu paham saja. Keduanya merupakan keseimbangan hidup dan bukanlah
suatu dikotomi yang perlu diperdebatkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar